Selamat Datang di Blog Kajian Sastra Daerah

Minggu, 03 Juni 2012

PARAGRAF JURNALISTIK

PARAGRAF JURNALISTIK
OLEH
RUKIMA
A2D1 09 150
A.Pendahuluan
1. pengertian paragraf junalistik
Paragraf adalahseperangkat  kalimat tersusun logis – sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan.
Paragraf kerap disebut pula alinea.secara fisik visual,sebuah paragraf atau alinea ditandai dengan penulisan kata awal kalimat yang menjorok ke dalam beberapa ketukan.inilah yang lazim dinamakan baris baru atau ganti baris.sebuah paragraf bisa terdiri  atas beberapa kalimat,bisa pula hanya sebuah kaliamat.bahkan dalam karya feature,cukup banyak ditemukan paragraf yang hanya terdiri atas satu kata.jadi,sebuah paragraf bisa hanya merupakan sebuah kalimat,bisa pula hanya sebuah kata..
Dalam bahasa jurnalistik, sangat dihindari penggunaanparagraf-paragraf panjang.terdapat dua dua alasan dan pertimbangan mengapa bahasa jurnalistik lebih menyukai paragraf-paragraf pendek yang rata-rata terdiri atas 3-5 baris saja.pertama alasan filosofis, dan kedua alasan teknis.alasan filosofis,bahasa jurnalistik harus disajikan secara sederhana dan ringkas karena khalayak media massa sangat heterogen serta berada dalam sifat ketergesa-gesaan.alasan teknis,bahasa jurnalistik disajikan dalam ruang lajur-lajur kolom yang sangat pendek dan sempit.

2.. karakteristik paragraf jurnalistik
1. memiliki satu ide pokok
Paragraf jurnalistik yang baik hanya memiliki satu  gagasan pokok dalam keseluruhan kalimat.gagasan pokok itu bisa ditempatkan pada awal paragraf, bisa pada akhir paragraf  tetapi sedikit sekali yang ditempatkan pada bagian akhir paragraf.menurut kaidah tata bahasa ,gagasan pokok yang ditempatkan pada awal  paragraf,disebut paragraf deduktif.sedangkan gagasan pokok yang ditempatkan pada akhir paragraf disebut paragraf induktif.
2.dibangun oleh sejumlah kalimat
Tidak ada ketentuan baku,apakah paragraf jurnalistik yang baik harus terdiri atas satu kalimat,dua-tiga kalimat,empat-lima kalimat, enam- tujuh kalimat,atau lebih.panjang pendeknya paragraf ditentukan oleh pertimbangan latar belakang pembaca  dan factor isi-sifat media yang dipilih.
3.kesatuan ekspresi pikiran    
Ada pakar bahasa yang mengatakan , sebuah kalimat hanya memunculkan satu ide pokok atau satu gagasan pikiran.karena baru sebatas satu gagasan atau satu ide, maka kalimat tidak dapat digolongkan ke dalam apa yang disebut wacana.unsur wacana baru tampak pada paragraf.menurut para pakar bahasa ,paragraf  sesungguhnya merupakan satuan terkecil dari sebuah wacana.disebut satuan terkecil,karena pada paragraf sudah terdapat satu kesatuan ekspresi pikiran dan perasaan mengenai gagasan sentral apa yang ingin disampaikan penulis atau jurnalis kepada khalayak ,pembaca,pendengar,atau pemirsa.

4.kesataun koheren dan padat
Kesatuan sebuah paragraf jurnalistik bukan hanya terletak pada bentuknya sebagai kumpulan kalimat yang ditandai dengan penulisan awal paragraf yang menjorok  ke dalam 5-7 ketukan,melainkan juga pada kepaduan materi isi dan gagasannya.
Sebuah paragraf jurnalistik disebut padat apabila memuat banyak informasi.sebuah paragraf jurnalistik yang panjang,tidak dengan sendirinya merupakan paragraf padat. Bisa saja kalimatnya panjang, tetapi sesungguhnya tidak padat atau miskin informasi.
5.logis dan sistematis
Paragraf jurnalistik yang baik,disusn secara tertib,teratur,dan merujuk kepada kaidah logika.artinya bentuk dan makna paragraf itu dapat diterima oleh pertimbangan akal sehat(common sense).
3.fungsi paragraf jurnalistik    
1.penampung ide pokok
Fungsi paragraf jurnalistik,secara teknis ialah menampung ide pokok yang hendak disampaikan penulis atau jurnalistik kepada pembaca,pendengar atau pemirsa . hanya dengan penampung dan pengelompokkan uraian-uraian ide pokok dalam satu paragraf yang ringkas,seorang penulis atau jurnalis akan mudah menyusun dan menyampaikan isi pikiran dan perasan nya secara logis dan sistematis ke dalam berbagai bentuk karya jurnalistik seperti tajuk rencana, berita atau bahkan feature.


2.Memudahkan pemahaman jalan pikiran.
Kita dapat mengetahui jalan pikiran penulis atau jurnalis, dengan cara menyimak kata demi kata, dan kalimat demi kalimat yang terdapat dalam satuan-satuan paragraf pada karya-karya jurnalistik yang ditulis disajikan dalam media massa. Jika dalam pikiran penulis atau jurnalistik konsisten, beraturan, tidak meloncat-loncat, maka dapat dipastkan karaya jurnalistikyang disusunnya termaksud efektif dan komunikatif. Tetapi sebaliknya bila jalan pikiran penulis tidak konsisten., tidak beraturan , meloncat-loncat, maka sudah bisa dipstikan karya jurnalistik yang disusunnya tergolong tidak efektif, tidak komunikatif, dan bahkan mungkin bertentangan dengan kaidah tata bahasa jurnalistik baku.
3.melahirkan jalan pikiran sustematif
Jurnalis atau penulis yang menulis untuk media massa, harus mampu melahirkan karya-karya jurnalistik bermutu tinggi. Paragraf pola deduktif adalah paragraf yang didahului dengan kalimat pokok, kemudian disusul dengan kalimat dan penjelas. Sedangkan paragraf pola induktif adalah paragraf yang dimulai dengan kalimat penjelas dilanjutkan dengan kalimat pengembang dan kalimat penegas.
4.mengarahkan pembaca ikuti alur penulis.
Seorang penulis atau  jurnalis yang baik, akan mengarahkan, memandu, sekaligus mengikat pikiran perasaan pembaca, pendengar, atau pemirsanyauntuk hanya mengikutijejak langkahnya. Pembaca harus merasa senangdan dibuat senang. Singkat kata, pembaca harus merasa dimanjakan.


4.unsur-unsur paragraf  jurnalistik.
1.transisi
Transisi berarti peralihan dari paragraf yang satu keparagraf berikutnya. Transisi menghubungkan dua paragraf yang berdekatan.transisi bisa berupa kata, bisa juga berupa kalimat. Dalam bahasa jurnalistik, tidak ada ketentuan apakah setiap paragraf harus memakai transisi.transisi  ditandai dengan kata hubungan kelanjutan seperti kata lalu, dan, serta: kata hubung antar waktu seperti sekarang, sebelum, kemudian ; kata penanda kalimat seperti misalnya; kata penanda  kontraks seperti tetapi. 
2.kalimat topic.
Kalimat topic, dalam bahasa jurnalistik disebut kalimat utama. Menurut kaidah bahasa jurnalistik, kata topik dan utama berbeda sekali konotasi serta maknanya. Kalimat utama adalah kalimat dalam paragraf yang menunjukan gagasan pokok, gagasan induk, atau ide sentral yang mendominasi seluruh uraian paragraf tersebut. Kalimta utama bisa ditempatakn pada awal paragraf, bisa juga diletakan pada akhir paragraf.
3,kalimat pengembangan.
Kalimat utama yang diberi penjelasan dan uraian penekanan serta contoh-contoh pada kalimat-kalimat berikutnya dalam satu paragraf yang sama, itulah yang disebut dengan kalimat pengembangan. Kalimat pengembangan berusaha menjabarkan sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang kongkret. Dalam bahasa jurnalistik, kalimat pengembangan disebut pula kalimat penjelas.


4.kalimat penegas.
Kalimat penegas dimaksudkan untuk memberi penegasan atau penekanan terhadap ap yang telah dinyatakan dalam kalimat utama. Menurut seorang pakar bahasa, fungsi kalimat penegas ada du. Pertama, sebagai pengulang atau penegas kembali kalimat topic atau kalimat utama. Kedua, sebagai daya penarik bagi para pembaca atau sebagai selingan untuk menghilangkan kejamuan. ( tarigan, 1981;20 )
5. jenis-jenis paragraf jurnalistik.
1. paragraf deduktif
Paragraf yang dimulai dengan kalimat utama disusul dengan penjelasan atau uraian secara lebih perinci dengan mengikuti pola urutan pesan dari umumke khusus, disebut paragraf deduktif. Fungsi paragraf deduktif terutama menegaskan suatu pokok pikiran, penyataan, atau kesimpulan untuk segera diketahui dan dicatat oleh khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa.
2. paragraf induktif.
Paragraf yang dimulai dengan kalimat penjelas bagian-bagian atau unsur-unsur terkecil disusul dengan penjelasan bagian-bagian yang lebih besar sebelum kemudian diakhiri dengan kesimpulan atau kalimat penegas, disebut paragraf induktif.
Fungsi paragraf induktif terutama untuk menekankan bagian-bagian atau satuan-satuan terkecil dari ide pokok yang ingin disampaikan  penulis atau jurnalis kepada khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa.

3. paragraf campuran.
Paragraf campuran sesungguhnya merupakan gabungan beberpa unsur paragraf dedukitf dan paragraf induktif. bahasa jurnalistik, kurang menyukai paragraf campuran karena cenderung menyulitkan pembaca, pendengar, atau pemirsa untuk cepat mengambil kesimpulan menenai pokok pikiran yang terdapat dalam suatu paragraf.
4. paragraf campuran.
Paragraf perbandingan tidak membicarakan urutan pesan sebagaimana tampak pada paragraf deduktif dan paragraf induktif. Paragraf perbandingan justru lebih tertarik pada materi isi pesan yang ingin disampaikan seorang penulis atau jurnalistik pada khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Suatu paragaraf disebut paragraf perbandingan apabila kalimat utama yang biasanya ditempatkan pada awal paragraf, membandingkan dua hal mengenai unsur-unsursifat atau keadaan yang terdapat didalamnya.
5. paragraf pertanyaan.
Paragraf yang bertujuan untuk mempertanyakan atau mengugat sesuatu  dengan mengajukan  kalimat Tanya pada kalimat pertama atau kalimat kedua awal paragraf jurnalistik, disebut paragraf pertanyaan. Karena bahsa jurnalistik bersifat lentur, tidak kaku, dan dinamis, maka boleh saja suatu waktu seseorang penulis atau jurnalis mengajukan pertanyaan kunci pada kalimat diakhir paragraf.
6.paragraf sebab-akibat
Paragraf yang disusun berdasrakan urutan logis disebut paragraf sebab-akibat. Artinya, kalimat utama dalam paragraf dikembangkan ke dalam urutan sebab dan akibat. Suatu peristiwa tidak mungkin ada tanpa sebab atau latar belakang yang mendasrinya. Bahasa jurnalistik sangat menyukai paragraf jenis demikian.
7. paragraf contoh.
Paragraf yang disususn dengan menunjukakan banyak contoh pada kalimat utama, kalimat pengembang, dan kalimat penjelas disebut paraagraf contoh. Fungsi utama paragraf utama contoh tidak diaksukan untuk menekankan suatu gagasan atau konsep, tetapi justru untuk memberikan gambaran sesuatu hal secara kenkret kepada khalayak membaca, pendengar , atau pemirsa.s
8. paragraf perulangan
Paragraf yang melakukan pengulangan kata, istilah,  frasa, atau klausa dalam susunan kalimat yang berbeda tetapi masih dalam satu paragraf jurnalistik yang sama, disebut paragraf perulangan. Fungsi paragraf perulangan terutama dimaksudkan untuk lebih menekankan efek psikologis yang ingin dicapai dari khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa, sekaligus menunjukkan  fariasi kata dan kalimat.
9. paragraf defenisi
Paragraf yang menunjukkan suatu istilah atau konsep pada kalimat utama dan istilah atau konsep itu memerlukan uraian serta penjelasan perinci pada kalimat-kalimat berikutnys disebut paragraf defenisi. Fungsi paragraf defenisi yakni untuk memperjelas suatu istilah, konsep, atau defenisi.



B. Pembahasan
1)…..2)…..3)…..
1.Berita utama
Berita utama pada Koran kendari pos edisi jumat, 18 november 2011 yang berjudul Busyro dituduh membusukkan DPR. Dalam berita utama memuat tujuh paragraf, ketujuh paragraf paragraf tersbut terdapat paragraf  utama yang terletak pada paragraf satu yaitu Anggota komisi 111 DPR RI, Nudirman munir mengatakan tundingan miring yang dilontarkan oleh pimpinan lembaga Negara terhadap DPR akhir-akhir ini harus diwaspadai sebagain salah satu upaya untuk memojokkan dan membusukkan terhadap institusi DPR.
Dalam paragraf utama yang terletak pada paragraf satu memuat ide pokok yaitu tundingan miring yang dilontarkan oleh pimpinan lembaga Negara terhadap DPR akhir-akhir ini harus  di waspadai sebagai salah satu upaya untuk memojokkan dan membusukkan terhada institusi paragraf. Dalam berita utama terdapat kalimat utama terletak pada pargraf delapan yaitu Nudirmsan mengingatkan ketua KPK Busyro Muqoddas agar membuang sikap kecurigaannya yang terus menerus ke DPR. Serta dalam berita utama terdapat kata kunci penuduhan.
2.Tajuk Rencana 
Tajuk rencana  pada Koran kendari pos edisi jumat,18 November 2001 yang berjudul Reses Orang-orang senayan yang memuat 11 paragraf . dalam paragraf tajuk rencana ini memuat 11 paragraf terdapat paragraf utama yang terletak pada paragraf satu yaitu Pemilu 2009 lalu,Sultra melahirkan 9 orang terbaik daerah ini  yang mendapatkan kepercayaan rakyat untuk mewakili mereka dipusat. Lima berasal dari partai politik yang menjadi anggota DPR RI.mereka kemudian dimandat 2 jutaan rakyat ini untuk nenperjangkan apa saja kekurangan daerah ini, dengan muarnya kelak bisa sejajar dengan daerah lain di Indonesia
Dalam paragraf utama terletak pada paragraf satu yang memuat ide pokok yaitu Sultra melahirkan 9 orang terbaik didaerah ini yang mendapatkan kepercayaan rakyat untuk mewakili mereka dipusat. Dalam tajuk rencana trdapat kalimat utama terletak pada paragraf tujuh yaitu Andi Rahmat komunisi xl DPR RI juga punya cara sendiri memperjuangkan daerahya .dalam minggu ini, ia berkeliling daerah disultra untuk menjemput arpirasi masyasakat .sayangya ,tidak terlalu banyak yang bisa diakses dari sosok legislatif ini karena relatif ekslusif dari diskusi-diskusi para aktivis lingkungan, dan yidak memiliki tim komunikasi yang canggih sehingga apa yang sudah perbuat untuk sultra jarang diketahui publik. kata kunci dalam tajuk rencana ini masyarakat sultra harus lebih pandai memilih wakilnya untuk duduk kesenayan
3. OPINI
Opini pada Koran edisi jumat,18 november 2011 yang berjudul Membangun Sinerginitas Antara Tenaga Ahli,Tim Ahli,Sekretariat dan DPRD Sultra 2012dalam opini memuat dua puluh  paragraf.kedua puluh paragra ftesebut  terdapat paragraf utama yang terletak pada paragraf satu yaitu DPRD Sultra resmu memiliki tenaga ahli dan tim ahli fraksi dan alat kelengkapan DPRD sejak tahun 2010, melihat proses rekruitmennya dilakukan secara terbuka dalam hal ini publik turut adil dan berpatisipasi,mulai dari tahap pengumuman, pendaftaran, tes makalah, dan wawancara semua telah  dilalui dengan menggunakan pos dana APBD, Respon publkpun  tidak diduga kurang lebih seratus lima puluh(orang) yang mengambil formulir pendaftar dengan bebagai latar belakang,mulai dari akademis, birokrat,NGO,pers, partai politik, mantan pejabat turut menghiasi media cetak lokal  dan nasional, bahkan beberapa daerah dan provinsi lainpun dating dibumi sultra tentang mekanisme rekruitmen dengan mengundang partisipasi publik.
Dalam paragraf utama yang terletak pada paragraf satu memuat ide pokok yaitu DPRD Sultra resmi memiliki tenaga ahli dan tim ahli fraksi dan alat kelengkapan DPRD sejak tahun 2011 . dalam opini terdapat kalimat utama terletak pada paragraf ketiga yaitu untuk memudahkan penafsiran secara utuh dan komprehensip tersebut, maka perlu ada rujukan agar penafsiran tidak parsial, liar dan subyektif (suks tidak suka) sehingga mengaburkan subtansi undang-undang tentang keberadaan tenaga ahli dan tim ahli, penulis mencoba membuka peraturan tentang tenaga ahli dan tim ahli/kelompok pakar agar dapat dijadikan dasar pikar rujukan.kata kunci  dalam opini yaitu tenaga ahli diharapkan bisa membantu dalam konteks kepentingan politik partai pembentuk fraksi.












C. Penutup
Paragraf merupakan seperangkat kalimat yang berhubungan untuk mendukung  satu topik sebuah paragraf dapat berupa satu kalimat sehingga sepuluh kalimat. Paragraf merupakan pembuka atau pengantar sampai pada pembicaraan.
Dalam paragraf jurnalistik kita harus dapat menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menghubungkan pikiran membaca kepada masalah yang akan disajikan  pada paragraf  utama, kalimat pokok, ide pokok, sehingga paragraf itu menjadi paragraf yang baik dan benar.













DAFTAR PUSTAKA
Kendari pos . jumat, 18 november 2011.


    









                                                                             

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA Latar Belakang Bahasa merupakan alat komunikasi utama, dengan bahasa manusia mengungkapkan pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Proses-proses pemikiran sangat ditentukan oleh kemampuan berbahasa. Melalui ungkapan bahasa, pikiran perasaan, dan penalaran seseorang dapat dirangsang dan dilatih. Kemampuan menggunakan bahasalah yang paling membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Bahasa memungkinkan manusia untuk menyampaikan informasi dan meneruskan dari generasi kegenerasi, melalui ungkapan secara tertulis. Bahasa memungkinkan manusia untuk membangun kebudayaan serta menguasai ilmu pengetahuan dan dengan demikian peningkatan mutu kehidupan. Bahasa juga dapat mempengaruhi arah perilaku manusia. Akhirnya dapat dikatakan bahwa bahasa memberikan manusia identitasnya, untuk menentukan posisinya didalam dunia dan membentuk tentang dunianya. Untuk memperoleh bahasa nasionalnya, bahasa nasional harus berjuang dalam waktu yang cukup panjang, dan penuh dengan tantangan. Perjuangan demikian harus dilakukan karena adanya kesadaran bahwa disamping fungsinya sebagai alat komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu ciri kultural yang kedalam menunjukkan kesatuan, dan keluar menyatakan perbedaan dengan bahasa lain. Dengan adanya sifat-sifat yang demikian, maka seharusnyalah kita bangga terhadap bahasa nasional kita. Dalam kenyataannya masih terdapat kesan sebagian penutur bahasa Indonesia belum menunjukkan sikap bangga terhadap bahasa Indonesia yang tampak dalam perilakunya. Adanya kenyataan seperti itu menimbulkan problema bagi bangsa Indonesia sebagai lambang kebanggaan nasional. Untuk mencoba memecahkan problema itu perlu dilakukan berbagai usaha, yang dalam hal ini harus ditempuh dua jalur, jalur pertama menuju kepada pembinaan bahasa Indonesia itu sendiri sebagai sistem beserta fungsi yang didukungnya, sehingga diperoleh kemantapan struktur dan ketetapan fungsi, sedangkan jalur kedua mengarah pada pembinaan sikap mental pemakainya, sehingga diperoleh sikap positif terhadap pembinaan yang dilakukan lewat jalur pertama. Dengan pembinaan bahasa indonesia yang ditunjang oleh sikap positif para pemakainya diharapkan bahasa Indonesia akan lebih berbobot dan berwibawa, sebagai aspek-aspek kebahasaan dan fungsinya telah mantap yang bersamaan dengan kesetiaan penutur untuk mengikuti apa yang telah ditetapkan dalam pembinaannya. Apabila hal ini dapat dicapai maka diperkirakan bahasa Indonesia sebagai lambang kebanggaan nasional akan dapat terwujud secara nyata berupa perilaku dari setiap pemakaiannya.

MITOS

1 pengertian Mitos Mitos adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empunya cerita. Manusia berusaha sungguh-sungguh dan dengan imajinasinya menerangkangejala alam yang ada, namun belum tepat, karena kurang pengetahuannya sehingga untuk bagian tersebut orang mengaitkannya dengan seorang tokoh atau dewa/dewi. 3.2 Contoh mitos dalam bahasa muna 1. Kalau malam tiba dilarang berdiri di bawah pohon agar tidak dibius setan (ani noratomo korondoha defeghelegho doere newawano poho rampahano mina dibiusi ositani). Seseorang bisa saja pingsan saat berada di bawah pohon besar di malam hari. Kejadian ini tidak ada hubungannya pana sekali dengan dibius setan. Pada siang hari tumbuhan membutuhkan karbondioksida untuk bernafas, tetapi pada makan hari tumbuhan membutuhkan oksigen untuk bernafas. Manusia memerlukan oksigen untuk bernafas, jadi proses pernafasan manusia akan terganggu ketika berada di bawah pohon pada malam hari. 2. Tertimpa cicak tandanya sial (nofondawuti sasa nofokantiba balaa) Sial di sini maksudnya dari tertimpa cicak itu sendiri. Siapa yang tidak sial kalau sedang enak – enak duduk tiba – tiba tertimpa cicak.s 3. Jangan memakai sesuatu yang tajam di malam hari. (koemo mepake mata m welo korondoa) Mungkin mitos ini muncul sebelum adanya listrik, jadi rasa orang tua melarang anaknya untuk tidak menggunakan benda tajam di malam hari. Kalau sekarang kan sudah ada listrik, buat apa mempercayai mitos ini. 4. Jangan memakai payung pada malam hari tanpa alasan (koemo mepake pau korondoha ani pabhe tingkuno) Jelas tidak disarankan, jika Anda melakukannya pasti akan disangka orang gila. Tidak panas tidak hujan tetapi memakai payung. 5. Wanita tidak boleh duduk di depan pintu. (Orobhine naembali nengkora newubhano foninto) Zaman dahulu wanita masih menggunakan rok, belum ada yang memakai celana. Jadi, kalau ada wanita yang duduk di depan pintu pasti akan terlihat…ya gitu deh. Pasti banyak mengundang hawa nafsu. 6. Jangan bersiul pada malam hari (koemo mengkawowo ani korondoha) Maksudnya adalah agar tidak mengganggu orang – orang yang sedang tidur. 7. Memakai payung di dalam rumah berarti sial (ani mepake pau welo lambu tandano balaa) Ya sial kalau lagi ada banyak orang di dalam rumah dan kita memakai payung. Mungkin orang – orang di sekitar Anda akan merasa terganggu atau tercolok matanya. Demikian penjelasan masuk akal dari mitos 7 mitos terpopuler di Indonesia. Para nenek moyang menganggapnya sebagai pamali atau ora ilok kalau orang Jawa bilang. Sebagai orang yang beragama, khususnya Islam tidak boleh mempercayai ramalan atau semacamnya karena hidup dan mati berada di tangan Tuhan, bukan nenek moyang.

PENYNTINGAN NASKAH

Seputar Penyuntingan Naskah Menjadi seorang penyunting (editor) ternyata bukanlah tugas yang biasa saja. Jika ingin menyandang jabatan itu, seseorang harus memikirkan bahwa dia memiliki tanggung jawab untuk melengkapi dirinya dalam dunia yang luas, yaitu dunia literatur. Jadi, seorang penyunting tidak hanya bermodal ejaan yang baik dan benar saja, akan tetapi harus memiliki "beban" sebagai seorang penyunting yang baik dan benar pula. "Buku Pintar Penyuntingan Naskah" yang ditulis oleh Pamusuk Eneste benar-benar dapat dijadikan salah satu referensi bagi para penyunting, khususnya yang baru saja menggeluti bidang ini. Isinya tidak hanya hal-hal teknis seputar penyuntingan, akan tetapi beberapa bab menjelaskan mengenai tugas-tugas, syarat, dan hal-hal yang harus diperhatikan seorang editor. Bagian-bagian tersebut dapat membangkitkan semangat untuk lebih mengembangkan diri atau untuk menguji apakah saat ini seseorang telah menjadi editor yang baik dan benar. Berikut ini bebarapa syarat untuk menjadi seorang editor yang dituliskan Pamusuk Eneste dalam "Buku Pintar Penyuntingan Naskah". 1. Menguasai ejaan. Harus paham benar ejaan bahasa Indonesia yang baku saat ini. Penggunaan huruf kecil dan huruf kapital, pemenggalan kata, dan penggunaan tanda-tanda baca (titik, koma, dan lain-lain) harus dipahami benar. Bagaimana bisa memperbaiki naskah orang lain jika tidak memahami seluk beluk ejaan bahasa Indonesia. 2. Menguasai tatabahasa. Seorang editor harus menguasai bahasa Indonesia dalam arti luas, tahu kalimat yang baik dan benar, kalimat yang salah dan tidak benar, kata-kata yang baku, bentuk-bentuk yang salah kaprah, pilihan kata yang pas, dan sebagainya. 3. Bersahabat dengan kamus. Seseorang yang malas membuka kamus sebetulnya tidak cocok menjadi penyunting naskah karena ahli bahasa sekalipun tidak mungkin menguasai semua kata ag ada dalam satu bahasa tertentu, apalagi kalau berbicara mengenai bahasa asing. 4. Memiliki kepekaan bahasa. Peyunting naskah harus tahu mana kalimat yang kasar dan kalimat yang halus; harus tahu mana kata yang perlu dihindari dan maa kata yang sebaiknya dipakai, harus tahu kapan kalimat atau kata tertentu digunakan atau dihindari. Untuk itu seorang penyunting naskah peru mengikuti tulisan-tulisan pakar bahasa atau kolom bahasa yang ada di sejumlah media cetak. 5. Memiliki pengetahuan luas. Harus banyak membaca buku, majalah, koran, dan menyerap informasi dari media audiovisual agar tidak ketinggalan informasi. 6. Memiliki ketelitian dan kesabaran. Dalam keadaan apapun, ketika menjalankan tugasnya seorang editor harus tetap teliti menyunting setiap kalimat, setiap kata, dan setiap istilah yang digunakan penulis naskah. Ia juga harus sabar menghadapi setiap naskah, karena proses penyuntingan itu memakan proses yang berulang-ulang. 7. Memiliki kepekaan terhadap SARA dan Pornografi. Penyunting naskah harus tahu kalimat yang layak cetak, kalimat yang perlu diubah konstruksinya, dan kata yang perlu diganti dengan kata lain. Dalam hal ini seorang penyunting harus peka terhadap hal-hal yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). 8. Memiliki keluwesan. Sikap luwes dan supel harus dimiliki seorang penyunting naskah karena akan sering berhubungan dengan orang lain. Penyunting harus bersedia mendengarkan berbagai pertanyaan, saran, dan keluhan. Dengan kata lain, seorang yang kaku tidaklah cocok menjadi penyunting naskah. 9. Memiliki kemampuan menulis. Hal ini perlu dimiliki seorang penyunting naskah karena kalau tidak tahu menulis kalimat yang benar tentu kita pun akan sulit membetulkan atau memperbaiki kalimat orang lain. 10. Menguasai bidang tertentu. Ada baiknya jika seorang penyunting naskah menguasai salah satu bidang keilmuan tertentu karena akan sangat membantu dalam tugasnya sehari-hari. 11. Menguasai bahasa asing. Dalam tugasnya, seorang penyunting naskah akan berhadapan dengan istilah-istilah yang berasal dari bahasa Inggris. Minimal, seorang penyunting naskah dapat menguasai bahasa Inggris secara pasif. Artinya dapat membaca dan memahami teks bahasa Inggris. 12. Memahami kode etik penyuntingan naskah. Berikut beberapa kode etik penyuntingan naskah yang ada dalam buku ini. 1. Editor wajib mencari informasi mengenai penulis naskah. 2. Editor bukanlah penulis naskah. 3. Wajib menghormati gaya penulis naskah. 4. Wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya. 5. Wajib mengonsultasikan hal-hal yang mungkin akan diubahnya dalam naskah. 6. Tidak boleh menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau telah ditulisnya. Buku pintar ini juga memberikan tuntunan kepada para penyunting tentang pentingnya setiap proses penyuntingan. Seperti, proses Pra penyuntingan naskah yang meliputi pengecekan kelengkapan naskah, ragam naskah, daftar isi, bagian-bagian bab, ilustrasi/tabel/gambar, catatan kaki, informasi mengenai penulis, dan membaca naskah secara keseluruhan. Dalam proses penyuntingan itu sendiri, yang perlu diperhatikan dengan cermat dan seksama oleh penyunting adalah masalah ejaan, tatabahasa, kebenaran fakta, legalitas, konsistensi, gaya penulis, konvensi penyuntingan naskah, dan gaya penerbit/gaya selingkung. Tidak kalah pentingnya juga proses pasca penyuntingan naskah. Dalam proses ini setiap editor harus memeriksan kembali kelengkapan naskah, nama penulis, kesesuai daftar isi dan isi naskah, tabel/ilustrasi/gambar, prakata/kata pengantar, sistematikan tiap bab, catatan kaki, daftar pustaka, daftar kata/istilah, lampiran, indkes, biografi singkat, sinopsis, nomor halaman, sampai siap diserahkan kepada penulis atau penerbit. Ternyata tidak begitu sederhana juga tugas seorang penyunting naskah itu, bukan? Semua membutuhkan kemauan dan kerja keras untuk dapat menjdi penyunting yang baik dan benar. Semua kerja keras itu bahkan tidak boleh berhenti pada satu puncak, harus terus ditingkatkan hari demi hari.

DONGENG

A. Dongeng dalam bahasa daerah muna Kapu-kapuuna Karakarambau Bula Bhe Wadhekamomombheludhu Karakarambau bula ini netisaamo o foo seghonu, naseha-sehae katisano maitu nokobhakemo. Wadhekamomombheludhu ini nokalamo wekundono lambuno, nokala neghondohi o bhelomba. Gara miina narumato we keutahano bhelomba, nofewonomu kawonduno foo. Noangkamo we koro foo maka neghondohi. Gara ini, bakeno foo karakarambau bula nokutumo. Noeneemo Wadhekamomombheludhu maka nofumaae. Nase-hasehae karakarambau bula nokalamo noghondohi bhakeno foono ghara minaemo. Nomamaraamo karakarambau bula ini. Nokalamo welo liwu, maka nokala we kolambuno, saratono nofoni welolambu. Nobisaramo kolambuno ambano “ingka karakarambau bula itu aini kaasi” nobisaramo karakarambau bula “inodi paa” ambano kolambuno “waghomesogho waghomepagho” amba karakarambau bula “akido aeso akidi aepaa, somano mofotaa mbarara” nofotaamo kolambuno gara mina nanumando modedeano wangka. Samppe fitu ghonu lambu kakalahano, peda kansuru anagha karakarambau bula nobisara. Nefitu ghonuno lambunagha gara lambuno kolakino liwu. Kolakino liwu nobisaramo ambano “ingka karakarambau bula itu aini kaasi waghomesogho waghomepagho” amba karakarambau bula “akido aeso akidi aepaa, somano mofotaa mbarara” nofotaamo kolakino lambu bhe ibuno gara ta Wadhekamomombheludhu pata motaano bisaramo karakarambau bula “noafa itu kaasi Wadhekamomombheludhu miina namotagho” nobisaramo kolakino liwu “miina narumungku lalono bhahi” amba karakarambau bula “toba paa akumilikilie” nokilikliemo karakrambau bula nokilikili Wadhekamomombheludhu. Aitumaka Wadhekamomombheludhu nofotaa tonokaraamu, naitu karakarambau bula nowura wangka Wadhekamomombheludhu tono kadeadeamo. Nobisaramo karakarambau bula ambano “mepakesi aitu dokalaana” dofopakeanemu Wadhekamomombheludhu kosibabarihae bulawano. Nokalaanemo karakarambau bula noowae welo sangku. Noedaane karakarambau bula, nowolo notikaisi bulawa Wadhekamomombheludhu, nowule kaawu noedaane novetumpumu karakarambau bula, nofewule we korono bontu. Maka karakarambau bula nokala nobasi sabhangkahino, gara Wadhekamomombheludhu nowora olele naho sekampana, nofonimo ne lele anagha bhe nobisara “sio-sionomo lele kafonihaku ini napotubhari kalangke” tolu paku neulangie wambano, lele kafonihano halighoomu noratoe kawea bunta. Nowuramo karakarambau bula nomai bhe sabhangkahino khabarindo todoowaowahimu karumbu dokala. Nobisaramo sabhangkahino karakarambau bula ini “hamaiemo itu mie kapulughomu” amba karakarambau bula “ingka naini kone aniini bhelahi afongkorae ne korono bontu” nowule kaawu doghondohie, dofumaamo karakarambau bula dopipisie bhe reano. Nomate kaawu karakarambau bula, Wadhekamomombheludhu neghondohimu cara sanahumundagho nasumuli welambundo. Wadhekamomombheludhu nefetulumimo ne manu-manu okatogha ambano “tulumi kanawu bhela wa ogha!” ambano katogha “tamolimu dhua atulumi ihintu maemu paniku ini taambulu-ambulumo” gara ini noliumo piikore ambano ”tulumi kanau wa ore!” nopeemu pikore ne lele, nofonimo Wadhekamomombheludhu te towhuno pikore maka nohoro ane nopeane wekapaea nggiri-nggiri, bhe nobisara pikore “aini haemo Wadhekamomombheludhu” fitu paku noulangie wambano pikore, ambano kolakino liwu “ah.. Wadhekamomombheludhu hae dhua, Wadhekamomombheludhu nomponamo nomate nokobubumu wangkano welo wite” notudumo kafolatehino dakumala daghumondoe, gara bhe Wadhekamomombheludhu kotughu. Nosulimo kafolatehino maka noforato kolakino liwu. Ambano kolakino liwu “ohunda adumodoko pedaolinta ane omekabuangka” ambano kafolatehino “umbe” nokala noghondoe kolakino liwu, ghara Wadhekamomombheludhu kotughu. Dobhasiemo pikore maka dofopilie sabhara bhulawa, gara opikore neala nggiri-nggiri maka notapue we ghagheno. Pada kaawu anagha opikore nohoromo ambano “apebhengginggiiku ahobheginggiiku” nongkaukaulehi manu-manu peda aniini pata tumulumino Wadhekamomombheludhu, dosawue pikore bhe nokutu we wite. Wadhekamomombheludhu dorame-rameanemu fitu gholeo fitu alo.   B. Terjemahan Dalam Bahasa Indonesia Dongeng Kerbau Putih Dan Wadhekamomombheludhu Kerbau putih menanam mangga di belakang rumah raja kampung, seiring dengan jalannya waktu mangga yang ditanamnya itu mulai berbuah, namun mangga tersebut hanya memiliki satu buah saja. Suatu hari Wadhekamomombheludhu pergi di belakang rumahnya untuk mencari buah yang ada di dalam hutan. Tetapi ia tidak sampai di dalam hutan karena ia mencium harumnya mangga masak. Disitulah Wadhekamomombheludhu singgah dibawah pohon mangga untuk mencari buah mangga yang jatuh, ternyata ia mendapat satu buah mangga yang sudah masak. Setelah ia memakannya Wadhekamomombheludhu pulang kerumahnya. Tiba-tiba karakarambau bula datang melihat buah mangganya, ternyata buah mangganya sudah tidak ada, disitulah karakarambau bula marah dan mulai memasuki perkampungan dan mampir dirumah-rumah warga. Rumah pertama, penghuni rumah tersebut berkata “ee...kerbau putih ini kasian, kasihkan dia rokok, kasihkan dia sirih” kerbau putihpun menjawab “saya tidak mau meroko, saya tidak mau makan sirih. Yang saya inginkan hanya kalian tertawa terbahak-bahak. Sampai seterusnya hingga tujuh rumah. Rumah ketujuh ternyata rumah raja kampung, raja kampung berkata “ee...kerbau putih ini kasian, kasihkan dia rokok, kasihkan dia sirih” kerbau putihpun menjawab “saya tidak mau meroko, saya tidak mau makan sirih. Yang saya inginkan hanya kalian tertawa terbahak-bahak”. Raja dan istrinya pun tertawa terbahak-bahak. Namun Wadhekamomombheludhu hanya diam saja. Kerbau putih berkata “kenapa Wadhekamomombheludhu tiidak tertawa?” raja kampung menjawab “mungkin dia lag malas untuk tertawa” karakarambau bula berkata “coba saya kasih geli-geli” Wadhekamomombheludhu pun tertawa terbahak-bahak. Disitulah kerbau putih melihat gigi Wadhekamomombheludhu berwarna merah. Kerbau putih berkata “berkemaslah Wadhekamomombheludhu” Wadhekamomombheludhu pun memakai semua perhiasannya dan kerbau putih membawa Wadhekamomombheludhu kedalam hutan berlari dengan sekencang-kencangnya, tidak menghiraukan lagi perhiasan Wadhekamomombheludhu yang jatuh satu persatu. Yang tersisa hanyalah sarung yang ada dibadannya. Kerbau putihpun merasa kelelahan dan akhirnya mereka singgah beristirahat di bawah poho waru dan Wadhekamomombheludhu diturunkan dari punggungnya, kerbau putih berkata “kamu tunggu disini, saya akan pergi memanggil teman-temanku”. Setelah kerbau putih pergi, Wadhekamomombheludhu mencari pohon yang bisa ia panjat ternyata disamping pohon waru tersebut, ada pohon yang batangnya belum terlalu besar hanya mempunyai satu dahan. Wadhekamomombheludhu pun naik diatas pohon tersebut dan berkata “mudah-mudahan pohon yang saya naiki ini akan bertambah tinggi” tiga kali ia ucapkan kalimat tersebut, pohon itu langsung bertambah tinggi sekejap mata ampir sampai di awan. Wadhekamomombheludhu melihat kerbau putih datang bersama rombongan teman-temannya dan mengeluarkan suara yang ramai sekali. Setelah sampai di pohon waru, mereka mencari Wadhekamomombheludhu, salah satu teman kerbau putih berkata “mana manusia yang kamu ceritakan tadi?” kerbau putih menjawab “tadi saya simpan disini”. Sekian lama mereka mencari dan tidak terlihat juga, akhirnya teman-teman kerbau putih marah dan langsung memakan kerbau putih sampai darahnya pun tidak tersisa. Setelah kerbau putih mati, Wadhekamomombheludhu milai mencari jalan untuk pulang, lewatlah seekor burung gagak disampingnya, Wadhekamomombheludhu berkata kepada burung gagak tersebut “bantu saya burung gagak” burung gagak menjawab “bagaimana caranya saya mau bantu kamu, sementara sayapku saja saya tidak bisa bawa” kemudian lewatlah seekor burung pipit, Wadhekamomombheludhu berkata “bantu saya burung pipit” burung pipit tersebut langsung hinggap didahan pohon itu, dan menyuruh Wadhekamomombheludhu untuk naik diatas punggungna. Setelah Wadhekamomombheludhu naik, burung tersebut langsung terbang, tidak lama kemudian tibalah di rumah Wadhekamomombheludhu dan ia hinggapkan di dahan pohon pepaya. Burung tersebut berkata “Wadhekamomombheludhu sudah tiba” secara berulang-ulang ia ucapkan dan raja kampung berkata “ah Wadhekamomombheludhu apa, Wadhekamomombheludhu sudah lama mati” karena burung pipit tersebut tidak berhenti bicara akhirnya raja kampung menyuruh dayang-dayangnya untuk melihat burung itu. Dayang-dayangnya pun pergi untuk melihat burung itu ternyata Wadhekamomombheludhu benar masih nidup, dan mereka langsung pulang memberitahu raj kampung, setelah diberi tahu, raja kampung berkata kepada dayang-dayangnya “seandaina perkataan kalian tidak benar, saya akan mencincang kalian seperti belut” dayang-dayangnya menjawab “iya” raja pun pergi melihat, ternyata memang benar apa yang dikatakan dayang-dayangnya. Dipanggilah burung pipit, diberi pilihan berbagai macam emas, tetapi burung tersebut hanya mengambil gelang kaki. Setelah itu ia terbang dan selalu berkata kepada teman-temannya yang tidak membantu Wadhekamomombheludhu “saya terbang dengan kaki yang bunyi-bunyi dan saya hinggap dengan kaki yang bunyi-bunyi. Burung lain yang tidak membantu Wadhekamomombheludhu merasa iri dan selalu mamatuk burung pipt sampai terjatuh di tanah. Dengan pulang Wadhekamomombheludhu raja kampung membuat acara selama tujuh hari tujuh malam. C. Menganalisis Dongeng Dengan Menggunakan Unsur Intrinsik dan Unsur Ekstrinsik.  Unsur Intrinsik Unsur intrinsik adalah unsur yang terdapat dalam kara sastra seperti prosa, dongeng dll. Unsur intrinsik meliputi: tema, alur, latar, penokohan, amanat, gaya bahasa dan sudut pandang 1. Tema Tema adalah gagasan ide atau pikiran utama didalam sebuah cerita. Tema atau pikiran utama dalam Dongeng Karakarambau bula Bhe Wadhekamomombheludhu adalah pertentangan antara karakarambau bula dengan Wadhekamomombheludhu. 2. Alur Alur adalah jalinan peristiwa dari awal sampai klimaks serta penyelesaian. Dongeng Karakarambau bula Bhe Wadhekamomombheludhu menggunakan alur maju karna dalam dongeng ini pengarang menceritakan dari awal sampai akhir cerita. 3. Latar Latar adalah bagian dari sebuah prosa yang isinya melukiskan tempat cerita terjadi dan menjelaskan kapan cerita itu berlaku. a. Latar tempat Latar tempat artinya tempat kejadian peristiwa. Dalam dongeng Karakarambau bula Bhe Wadhekamomombheludhu: - Di perkampungan - Dirumah raja kampung - Di hutan b. Latar waktu Latar waktu artinya kapan peristiwa itu terjadi, dalam dongeng Laalaani Bhe Wathentanafari terjadi: - Siang hari. c. Latar sosial Latar sosial berhubungan dengan kebiasaan masyarakat seperti adat istiadat, agama dan tradisi. Dalam dongeng Karakarambau bula Bhe Wadhekamomombheludhu kehidupan masyarakatnya mesih bersifat tradisional dan sudah memiliki adat istiadat karena ditandai dengan adanya pimpinan (raja kampung). 4. Tokoh Dan Watak Tokoh Penokohan adalah pemberian watak terhadap pelaku-pelaku cerita dalam sebuah karya sastra. Tokoh-tokoh dalam dongeng Karakarambau bula Bhe Wadhekamomombheludhu: a. Tokoh - Tokoh utama Tokoh uatama dalam dongeng Karakarambau bula Bhe Wadhekamomombheludhu adalah Karakarambau bula dan Wadhekamomombheludhu - Tokoh pelengkap Tokoh pelengkap dalam dongeng Karakarambau bula Bhe Wadhekamomombheludhu adalah: raja dan burung pipit b. Watak tokoh - Karakarambau bula Karakarambau bula mempunyai watak kejam karena ia tidak memiliki rasa belas kasih terhadap orang lain - Wadhekamomombheludhu memiliki watak yang bertanggung jawab karena ia bisa mempertanggung jawabkan kesalahannya. - Raja Raja memiliki watak yang pasrah karena saat anaknya dibawa oleh karakarambau bula ia hanya diam saja. - Burung pipit Burung pipit memiliki watak yang penolong karena ia mau menolong Wadhekamomombheludhu. 5. Sudut Pandang Sudut pandang yang digunakan dalam dongeng ini adalah sudut pandang orang kedua karena dalam dongeng ini seolaolah pengarang mencritakan tentang kisah seseorang. 6. Amanat Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca melalui karyanya. yang akan disembunyikan pengarang dalam keseluruhan cerita. Amat dalam doneng Karakarambau bula Bhe Wadhekamomombheludhu adalah sebagai manusia, kita tidak boleh mengambil barang orang tanpa sepengetahuan pemiliknya.  Unsur ekstrinsik Unsur ekstrinsik adalah unsur yang terdapat diluar karya sastra meliputi norma, sosial, budaya dan ekonomi. Didalam dongeng Karakarambau bula Bhe Wadhekamomombheludhu jika dihubungkan dengan kehidupan saat ini, memberikan pemahaman kepada pembaca tentang bagaimana berkehidupan sosial yang baik dalam lingkungan bermasyarakat.

PERUBAHAN MAKNA

Perubahan Makna 1. Pengertian Dalam perkembangan penggunaannya, kata sering mengalami perubahan makna. Perubahan tersebut terjadi karena pergeseran konotasi, rentang masa penggunaan, jarak, dan lain-lain. Namun yang jelas, perubahan-perubahan tersebut ada bermacam-macam yaitu: menyempit, meluas, amelioratif, peyoratif, dan asosiasi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjelasan dibawah ini : 2. Macam-macam Perubahan Makna a. menyempit/spesialisasi Kata yang tergolog kedalam perubahan makna ini adalah kata yang pada awal penggunaannya bisa dipakai untuk berbagai hal umum, tetapi penggunaannya saat ini hanya terbatas untuk satu keadaan saja. Contoh : Sastra dulu dipakai untuk pengertian tulisan dalma arti luas atau umum, sedangkan sekarang hanya dimaknakan dengan tulisan yang berbau seni. Begitu pula kata sarjana (dulu orang yang pandai, berilmu tinggi, sekarang bermakna “lulusan perguruan tinggi”). b. meluas/generalisasi Penggunaan kata ini berkebalikan dengan pengertian menyempit. Contoh : Petani dulu dipai untuk seseorang yang bekerja dan menggantungkan hidupnya dari mengerjakan sawah, tetapi sekarang kata tersebut dipakai untuk keadaan yang lebih luas. Penggunaan pengertian petani ikan, petani tambak, petani lele merupakan bukti bahwa kata petani meluas penggunaannya. c. amelioratif Pada awalnya, kata ini memiliki makna kurang baik, kurang positif, tidak menguntungkan, akan tetapi, pada akhirnya mengandung pengertian makna yang baik, positif, dan menguntungkan. Contoh : Wanita, pramunikmat, dan warakawuri merupakan kata-kata yang dipakai untuk lebih menghaluskan, menyopankan pengertian yang terkandung dalam kata-kata tersebut. d. peyoratif Makna kata sekarang mengalami penurunan nilai rasa kata daripada makna kata pada awal pemakaiannya. Contoh : Kawin, gerombolan, oknum, dan perempuan terasa memiliki konotasi menurun atau negatif. e. asosiasi Yang tegolong kedalam perubahan makna ini adalah kata-kata dengan makna-makna yang muncul karena persamaan sifat. Sering kita mendengar kalimat “hati-hati dengan tukang catut itu.” Tukang catut dalam kalimat diatas tergolong kata-kata dengan makna asosiatif. Begitu pula dengan kata kacamata dalam : menurut kacamata saya, perbuatan anda tidak benar f. sinestesia Perubahan makna terjadi karena pertukaran tanggapan antara dua indera, misalnya dari indera pengecap ke indera penglihatan. Contoh: Gadis itu berwajah manis. Kata manis mengandung makna enak, biasanya dirasakan oleh alat pengecap, berubah menjadi bagus, dirasakan oleh indera penglihatan. Demikian juga kata panas, kasar, sejuk, dan sebagainya.

WACANA

. Pengertian Wacana Wacana sebagai dasar dalam pemahaman teks sangat diperlukan masyarakat dalam berkomunikasi dengan informasi secara utuh. Wacana yang baik harus memperhatikan isi (informasi) yang koheren dan keruntutan unsur pendukung (kohesi). Wacana berasal dari bahasa Inggris discourse, yang artinya antara lain ”Kemampuan untuk maju menurut urutan-urutan yang teratur dan semestinya.” Pengertian lain, yaitu ”Komunikasi buah pikiran, baik lisan maupun tulisan, yang resmi dan teratur.” Jadi, wacana dapat diartikan adalah sebuah tulisan yang teratur menurut urut-urutan yang semestinya atau logis. Dalam wacana setiap unsurnya harus memiliki kesatuan dan kepaduan. Setiap wacana memiliki tema untuk diuraikan atau diceritakan dalam wacana. Tema berfungsi sebagai pengikat agar isi wacana teratur, terarah dan tidak menyimpang kesana-kemari. Sebelum menulis wacana, seseorang harus terlebih dahulu menentukan tema, setelah itu baru tujuan. Tujuan ini berkaitan dengan bentuk atau model isi wacana. Tema wacana akan diungkapkan dalam corak atau jenis tulisan seperti apa itu bergantung pada tujuan dan keinginan si penulis. Setelah menetapkan tujuan, penulis akan membuat kerangka karangan yang terdiri atas topik-topik yang merupakan penjabaran dari tema. Topik-topik itu disusun secara sistematis. Hal itu dibuat sebagai pedoman agar karangan dapat terarah dengan memperlihatkan pembagian unsur-unsur karangan yang berkaitan dengan tema. Dengan itu, penulis dapat mengadakan berbagai perubahan susunan menuju ke pola yang sempurna. J.S. Badudu (2000) memaparkan wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan dengan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa wacana merupakan kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan,yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata,disampaikan secara lisan dan tertulis. Wacana yang padu adalah wacana yang apabila dilihat dari segi hubungan bentuk atau strukturnya bersifat kohesif dan dilihat dari struktur maknanya bersifat koheren. Kita ketahui bahwa sebuah wacana itu dapat berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan maksud penulis kepada pembaca. Apabila suatu wacana tidak memperhatikan aspek kebahasaan yang baik dan tidak memperhatikan kohesi dan koherensinya maka wacana tersebut tidak padu dan tidak menarik, sehingga informasi yang disampaikan oleh penulis tidak akan sampai kepada pembacanya. B. Jenis-jenis Wacana 2.2.1. Berdasarkan media penyampaian: wacana lisan dan tulisan 1 Wacana lisan dihasilkan secara lisan yang melibatkan komunikasi langsung antara penutur dengan pendengar. Dalam wacana lisan, ekspresi wajah, nada suara, gerak badan dan sebagainya berfungsi untuk menyampaikan sesuatu perkara kepada pendengar. Contohnya ialah perbualan harian, temu ramah, ceramah, ucapan, khutbah, siaran televisyen dan radio. 2 Wacana tulisan pula ialah wacana yang disampaikan secara bertulis yang melibatkan hubungan antara penulis dengan pembaca. Komunikasi yang berlaku ialah komunikasi satu arah atau tidak langsung. Penulis tidak mendapat reaksi pembaca pada masa itu kerana penulis tidak berdepan dengan pembaca. Contoh wacana tulisan ialah rencana, akhbar, majalah, buku dan novel. 2.2.2. Berdasarkan pengungkapan: wacana langsung dan tidak langsung 2.2.3. Berdasarkan bentuk : wacana prosa, puisi dan dramai Leech mengklasifikasikan wacana berdasarkan fungsi bahasa seperti dijelaskan berikut ini; 1. Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresi, seperti wacana pidato; 2. Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan pada pesta; 3. Wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa; 4. Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu; 5. Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.